MAHASISWA TUKANG KAYU GELARKU

Aktifitas perkuliahan berganti dengan datangnya liburan semester, hal yang demikian membuat Mahasiswa/I pun berhenti sejenak didalam mengikuti proses belajar dan mengajar dikampus. Cerita ini berawal dari seorang Mahasiswa yang biasa hidupnya, Orang Tuanya hanya menekuni pekerjaan sehari-hari sebagai seorang petani seperti menggarap sawah dan ladang.Namun, walaupun dalam keadaan yang sulit, Orang Tuannya ingin Anaknya menempuh jenjang pendidikan dan tidak mengiginkan kehidupan Anaknya persis sama dengan yang dijalani Orang Tuannya.

Niatan itupun kesampaian, sang Anak pun menunjukkan sikap kesungguhannya didalam menempuh pendidikan sehingga saat ini sang Anak adalah seorang Mahasiswa yang aktif disalah satu Perguruan Tinggi Negeri Agama di Sumatera Barat. Sulitnya kehidupan di era globalisasi dewasa ini, tidak mengeringkan semangat Orang Tua dan Anak tersebut untuk mengikuti proses Perkuliahan, dia menanamkan didalam jiwanya untuk selalu berusaha karena dengan prinsip demikianlah dia bisa merasakan liku-liku kehidupan.

Proses Perkuliahan yang dia tekuni terhenti dengan selesainya ujian semester yang dibuktikan dengan adanya libur semester, Mahasiswa/I pun menuju kampung halaman untuk melepaskan kerinduan kepada Orang Tua (Keluarga) dan bakti sang Anak untuk membantu pekerjaan Orang Tuannya dirumah.

Sesampainya dirumah Mahasiswa yang biasanya menekuni Perkuliahan ditempat yang bersih, duduk mendengarkan pelajaran saat libur suasana yang demikian berselang dengan sebuah pekerjaan bertani. Seyogyanya seorang Anak membantu Orang Tua untuk meringankan pekerjaan Orang Tuannya merupakan bukti kecintaan terhadap Orang Tua. Melakoni kehidupan sebagai Petani sudah lama ditekuni Orang Tuanya begitupun Mahasiswa (Anak tersebut). Kendati demikian, ketika sang Anak mendapatkan kesempatan untuk membantu Orang Tua sang Anak pun dijuluki sebagai Mahasiswa tukang kayu, dikarenakan sebagai seorang Anak Petani dan sebagai seorang Mahasiswa berbanding terbalik kebanyakan penilaian umum dari masyarakat melihat Mahasiswa melakukan yang demikian.

‘’Iyo lah jan baraiak-baraiak bana mambawo kayu tu, awak alun babini lai jan paso-paso bana mambawo kayu tu, bagarah jo mah masak Mahasiswa jadi tukang kayu Praktek apo lo tu namonyo…..?”

Mendengar yang demikian seorang Mahasiswa dan sebagai seorang Anak Petani mendapatkan gelar seperti itu hanya melukiskan senyuman yang menadakan keramahan didalam menyikapi pernyataan tersebut. Kemudian sang Anak pun berfikir betapa sulitnya menjalani kehidupan tanpa adanya memiliki ilmu Pengetahuan.

Dengan mendapatkan gelar seperti itu dari sebahagian teman-teman sejawat dan masyarakat yang lain, tidak memudarkan putihnya semangat suci sang Anak untuk menempuh proses Pendidikan, yang tersirat di hatinya adalah keinginan untuk menjadikan dirinya menjadi orang yang shaleh, bermanfaat bagi Orang Tua, Agama dan Bangsa yang penuh pro kontra terhadap era pemerintahan demokrasi ini..

Dibandingkan dengan sahabat-sahabatnya yang sama mengikuti proses Perkuliahan sang Anak ini termasuk orang yang sederhana kehidupannya. namun sang Anak ini memiliki rasa Syukur kepada Allah SWT atas apa yang telah diberikan terhadap kehidupannya.

Kehidupan sebagai seorang petani adalah dasar yang kuat baginya untuk menjadi sebagai seorang Sarjana guna memenuhi harapan Orang Tuannya.namun sang Anak cukup sedih melihat sebahagian teman-temanya yang memiliki kemampuan materi utuk proses Pendidikan yang menjalani Perkuliahan tidak bersungguh-sungguh, bahkan jarang untuk mengikuti proses Perkuliahan.

Melihat nuansa seperti itu, sang Anak merasa kecewa bahkan selalu berusaha untuk mengingatkan teman-temannya, namun usaha itu belum menunjukkan hasil, sang Anak cukup banyak memiliki teman-teman sekampus yang kurang aktif mengikuti Perkuliahannya. Namun sang Anak tidak mau terjerumus seperti yang ditradisikan oleh teman-temannya.

Ditengah pengaruh lingkungan seperti itu, sang Anak tetap tegar dan bersemangat untuk menyelesaikan proses Perkuliahannnya dengan baik, karena sang Anak belajar akan kehidupan Rasurullah sebagaimana yang dipelajari dikampus bahwasanya Rasul hidup ditengah orang yang kafir namun Rasurullah SAW berhasil memberikan kesadaran terhadap orang-orang disekitarnya.

Walaupun digelari sebagai Mahasiswa Tukang Kayu, Mahasiswa ini pun cukup bahagia dengan gelar tersebut, dengan panggilan akrab seperti itulah yang mampu menyemangati didalam menempuh pendidikan dan berharap bisa mewujudkan keinginan untuk menjadi orang yang berhasil walaupun dari segi ekonomi kurang memadai.

Melalui Tulisan ini Mahasiswa Tukang Kayu meminta izin untuk memberikan pengalaman ini sebagai pelajaran terhadap Pengalaman hidup (Ikhtibar) bagi Sahabat-sahabat Mahasiswa yang sedang menempuh Perkuliahan. Apapun kondisi kehidupan yang sedang dijalani janganlah pernah takut untuk menghadapinya.

Usaha dan Do’a lah yang menjadikan Pribadi kita berkualitas atau tidaknya dan keseluruhan itu tergantung pribadi kita masing-masing bukan orang lain. Dan yakinlah kalau kita bersungguh-sungguh Allah SWT akan memberikan keberkahan dalam hidup di dunia Allah SWT yang maha luas ini, Amin.

Wassalam.

Pasaman, 16 Februari 2011

Jumi E.S.Th.I

(Ajoem Datuak Sutan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Aconsultant System Ritel Sumatera Barat

Software & Program Kasir, Minimarket, Gudang, Apotek, Rumah Makan, Hotel, Rumah Sakit, Laundry, dan lain-lain ( Padang - Bukittinggi - Pariaman - Solok - Pasaman - Sawahlunto - Pesisir )

Bang Ori Gagah

Kepada Dzat Maha Gagah, Ku Berserah dan Pasrah

Marketing Tulen

LOOKING FROM A DIFFERENT PERSPECTIVE

Pelataran Villa Jumi-E

Jaga hatimu di Kota Padang

%d blogger menyukai ini: