“Puasa Membentuk Pribadi Muttaqin”


Jika Allah memerintahkan sesuatu kepada manusia, pasti ada maksud dan tujuannya. Mustahil Allah bermain-main atau menciptakan kesia-siaan. Demikian juga jika Allah memerintahkan kita untuk melakukan ibadah puasa ramadhan, pastilah dengan puasa ramadhan itu ada maksud dan tujuan yang hendak dicapai, sebagaimana hal itu terpampang dengan jelas dalam firman Allah :

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana puasa itu diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.(Al Baqarah, 2 : 183)

Itulah logika puasa. Berhasil atau tidaknya kita melakukan ibadah puasa, akan tampak pada intensitas ketaqwaan seusai kita berpuasa. Kita baru benar-benar bisa dikatakan berpuasa hanya setelah kita keluar dari ramadhan, kadar dan kualitas kepribadian kita meningkat ke tataran taqwa.

Jika tidak demikian, kita hanyalah pelaku rutinitas ritual, pejalan tradisi. Kita hanya telah menggugurkan kewajiban melaksanakan rukun puasa, tetapi kita tidak mendapat hasil dari puasa kita itu.

Taqwa itu terdiri atas 4 huruf yang masing-masing hurufnya melambangkan symbol dari pribadi orang yang bertaqwa. Empat huruf itu yaitu huruf :

Pertama huruf ta’, yang melambangkan sikap tawadlu’ atau rendah hati. Orang yang bertaqwa tidak memiliki sifat sombong. Sebab kalau kita kreatif, puasa itu merupakan moment istemewa yang disediakan Allah untuk penanaman kesadaran akan kelemahan dan keterbatasan kemampuan yang kita miliki.

Ya Allah, baru tidak makan sehari saja sudah seperti ini rasanya. Hal ini akan membangkitkan perasaan, bagaimana dengan orang yang sudah berhari-hari tidak makan? Lalu menimbulkan sikap kepedulian kita terhadap kesulitan sesama.

Pengalaman semacam ini adalah pelajaran tentang kelemahan manusia dan keterbatasan biologis kita. Dan dari sinilah akan terbit kesadaran “apa yang bisa disombongkan di hadapan Allah?” Kaya, siapa sih yang paling kaya? Ilmu, siapa sih yang paling pintar? Jabatan, siapa sih yang punya pangkat tertinggi? Apalah artinya jika dibandingkan dengan kekuasaan Allah SWT. Kesadaran semacam ini merupakan sendi dasar dari sifat tawadhu’.

Lebih jauh kesadaran ini akan membentuk stabilitas temperatur batin. Orang tetap konstan merawat nilai-nilai idealisme yang ia miliki. Kalau dia berangkat dengan keadilan, di tengah perjalanannya juga penuh dengan keadilan dan berakhir dengan keadilan pula. Tidak seperti yang sering kita saksikan. Mulanya ia adil, sampai di tengah jalan semakin tipis, lalu malah berakhir dengan kedholiman. Awalnya memang berkorban, tetapi belakangan malah mengorbankan kepentingan orang banyak. Waktu di bawah, rajin membaca ayat kursi, sudah dapat kursi justru lupa dengan orang bawah. Itulah akibat tidak adanya stabilitas temperatur bathin.

Huruf kedua adalah huruf qof, symbol dari sifat qonaah, yang artinya merasa dirinya cukup. Puasa melatih kita untuk merasa cukup.

Satu pengalaman, saat kita berpuasa cenderung segalanya akan dibeli untuk makan dan minum saat berbuka nanti. Tetapi setelah waktu berbuka datang, sesuaikah yang kita makan dan kita minum dengan keinginan tadi siang Sepanjang hari kita menumpuk berbagai jenis makanan, semuanya ingin kita santap, tetapi seberapa yang kita makan dan minum saat berbuka?

Peristiwa itu mengajarkan kepada kita bahwa ketika kita berhadapan dengan kekayaan, kita harus berpijak pada pertimbangan kebutuhan atau keperluan. Inilah prinsip dasar sifat qonaah. Bekerja dan berusaha mencari nafkah adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Bukan buat memperturutkan keinginan. Kalau ketika berhadapan dengan harta kekayaan, kita mengacu kepada keinginan, kasusnya akan sama dengan orang minum air laut. Makin banyak minum akan semakin haus. Sifat ini harus dihentikan. Cara menghapusnya ialah dengan sifat qonaah yang dipupuk lewat ibadah puasa.

Huruf yang ketiga adalah huruf wau, symbol dari sifat wara’. Artinya terpelihara dari barang yang subhat, apalagi yang haram. Orang yang memiliki sifat wara’ ini, dirinya terpelihara dari segala sesuatu yang bernilai subhat ataupun haram. Karena itu lucu jadinya, jika ada orang berpuasa, menahan diri dari barang yang haram di siang hari, tetapi dia berbuka dengan makanan dan minuman yang haram, sungguh aneh.

Huruf keempat adalah huruf ya’, symbol dari sifat yakin. Orang yang berhasil puasanya akan memiliki keyakinan yang kuat. Dan kuatnya keyakinan ini merupakan ciri orang yang bertaqwa.

Sebab puasa itu ibadah independent, dalam arti ibadah yang terbebas dari dorongan aspek di luar diri pelakunya. Kalau kita sholat bisa dilihat orang, sehingga timbul sugesti untuk rajin sholat. Kalau kita berzakat pasti diketahui orang, setidaknya ia dan penerima zakat. Kalau kita berhaji orang sekampung ikut mengantarkan. Tetapi kalau berpuasa, siapa yang tahu kalau kita berpuasa? Siapa yang akan memuji puasa kita? Puasa hanyalah urusan si pelaku dengan Allah SWT. Oleh karena itu dasar ibadah puasa adalah keyakinan, yang dipanggil untuk puasa adalah iman. Mereka yang berhasil menjalankan puasanya dengan sendirinya terkonsentrasi dan menggumpal keyakinannya.

Demikianlah, berpuasa yang benar adalah yang mengantarkan pelakunya menjadi orang yang bertaqwa. Maka berbahagialah mereka yang berhasil mencapainya. Karena kepada orang-orang yang bertaqwa, di dalam Al Qur’an Allah menjajikan : “Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan memberi jalan keluar kepadanya dan akan memberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka (Ath Tholaq, 2-3). Wallahu a’lam.

Padang, 14 Ramadhan 1433 H

By: JE

~~~ “PUASA MEMBENTUK TAQWA” ~~~

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Aconsultant System Ritel Sumatera Barat

Software & Program Kasir, Minimarket, Gudang, Apotek, Rumah Makan, Hotel, Rumah Sakit, Laundry, dan lain-lain ( Padang - Bukittinggi - Pariaman - Solok - Pasaman - Sawahlunto - Pesisir )

Bang Ori Gagah

Kepada Dzat Maha Gagah, Ku Berserah dan Pasrah

Marketing Tulen

LOOKING FROM A DIFFERENT PERSPECTIVE

Pelataran Villa Jumi-E

Jaga hatimu di Kota Padang

%d blogger menyukai ini: