Siapa Muhammad al-Amin al-Sanqithiy..?

  1. Pendahuluan

Al-Qur’an merupakan firman Allah Swt yang menjadi sumber ilmu dan pedoman bagi manusia. Ia selalu menjadi objek kajian bagi para intelektual muslim terdahulu dalam memahami hukum-hukum yang dikandung oleh al-Qur’an. Disamping itu, al-Qur’an juga menjadi kajian keilmuan kontenporer oleh ulama yang berkecimbung dalam bidang tersebut.

Dari peryataan diatas, maka kita tidak heran banyak ulama yang menafsirkan al-Qur’an dengan berbagai corak, hal ini terpulang kepada kecenderungan dan piranti yang dimilikinya ketika ia menafsirkan al-Qur’an. Seorang ulama yang memiliki keahlian dalam bidang bahasa, maka ia akan menafsirkan al-Qur’an dengan corak bahasa, demikian juga dengan ulama yang mempunyai keahlian dalam bidnag fiqh, maka ia akan menafsirkan al-Qur’an dengan corak fiqhiy, bahkan ada ulama yang menghimpun semua keilmuan islam dalam kitab tafsirnya.

Demikian juga dengan ulama sekarang ini tidak kalah hebatnya dengan intelektual muslim terdahulu, mereka mampu menghasilkan karya sebagai mana pendahulu mereka, akan tetapi metode yang mereka gunakan tentu jauh berbeda dengan pendahulu mereka. Hal ini disebabkan karena tuntukan zaman serta kebutuhan umat Islam sekarang ini, karena pada dasarnya al-Qur’an merupakan kitab yang bisa dijadikan objek kajian pada setiap zaman dan tempat, ia merupakan mukjizat sampai hari kiamat.

Makalah ini akan membahsa metode Muhammad al-Amin al-Sanqitiy dalam tafsirnya yang berjudul Adwa’u al-Bayan fi al-Tafsiri al-Qur’an bi al-Qur’an. Disamping itu, penulis juga membahas biografi singkat pengerang tafsir ini, serta alasan yang mendoronganya dalam menulis tafsir ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi teman-teman sekalian, meskipun masih banyak kekurangan dalam penulisannya, hal ini disebabkan karena keterbatsan pengetahuan dan ilmu yang penulis miliki.  Saran dan masukan dari teman-teman sekalian serta bimbingan dari dosen pembimbing sangatlah diharapkan guna kesempurnaan makalah ini.

  1. Biografi singkat Muhammad al-Amin al-Sanqithiy
    1. Nama, kelahiran, serta perjalanan karirnya

Nama panjangnya adalah Muhammad al-Amin  bin al-Mukhtar bin Abdu al-Qadir al-Jakniy al-Sanqithiy. Ia dilahirkan pada tahun 1305 H tepatnya di kota Kifa yang berada di negra Syanqith yaitu kota Muritania sekarang.  Ia wafat setelah menunaikan ibadah haji pada hari Kamis tanggal 17 Zulhijjah 1393 H, kemudian dikebumikan di tempat pemakaman Ma’lah yang berada di Mekkah, ia hidup selama 89 tahun[1].

Muhammad al-Amin al-Sanqithiy telah menjadi yatim pada usia kecil, ia dibesarkan oleh pamannya. Muhammad al-Amin al-Sanqithiy merupakan ulama terkemuka di negerinya, ia hafal al-Qur’an semenjak usia 10 tahun, kemudian ia mendalami serta menuntut ilmu-ilmu agama seperti Al-Qur’an, tafsir, fiqh, nahwu, sejarah  di negeri kelahirannya, sampai ia menjadi seorang ulama terkemuka serta qhadiy di negeri tersebut.

Kemudian ia berniat untuk melaksanakan ibadah haji ke negeri Mekkah, disana ia banyak bertemu dengan intelektuak Mekkah dan Madinah, ia terkagum melihat keilmuan mereka, pada akirnya ia memutuskan untuk menetap di Madinah. Keinginan ini memang sudah ada pada dirinya semenjak dahulu, disamping ingin menutut ilmu dari ulama Madinah, ia pun juga mempunyai keinginan besar untuk selalu berada disampingnya Rasulullah Saw, maka ia memutuskan untuk tinggal disana (Madinah)[2].

Setelah lama tinggal di Madinah serta menuntut ilmu disana, maka ia memulai untuk mengamalkan ilmunya, ia mengajar tafsir al-Qur’an di mesjid Nabawi. Banyak pelajar yang hadir dalam majelisnya, baik itu pendatang atau pribumi. Pada tahun 1371 dibuka lembaga keilmuan serta kuliyah syariah di kota Riyadh, kemudian ia diminta untuk megajar disana, maka ia mengajar disana selama 10 tahun. Pada tahun 1381dibuka Universitas Al-Islamiyah di Madinah, ia pun juga diminta untuk mengajar tafsir dan ushul fiqh di Universitas tersebut. Dismping ia mengajar disana, ia tidak meninggalkan majlisnya yang diadakan di Masji Nabawi serta dirumahnya sendiri, ia merupakan ulama yang mencintai ilmu serta mengajarkannya kepada orang lain.

Disamping mengajar di Universitas Al-Islamiyah, pada tahun 1386 dibuka sekolah tinggi untuk para qhadiy, ia pun juga diminta untuk mengajar tafsir dan ushul fiqh disana, pada waktu itu ia berumur 80 tahun. Ia pernah menjadi aggota al-Majlis al-Ta’sisiy untuk Ikatan Dunia Islam di Mekkah. Ia terus berkarir dalam pendidikan dan pengajaran sampai ia meninggal dunia pada tahun 1393 H.[3]

Disamping aktif dalam mengajar, ia pun juga aktif dalam menulis buku. Banyak karya-karyanya yang dijadikan rujukan bagi ulama sekarang ini, diantaranya adalah sebagai berikut:[4]

  1. Adhwa’u al-Bayan fi Idhahi al-Qur’an bi al-Qur’an
  2. Man’u Jawazi al-Mujaz fi al-Manzil
  3. Muzakkaratu al-Ushul ‘ala Raudhati al-Nadhzir
  4. Adabu al-Bahsti wa al-Munadhzarah
  5. Daf’u Iyhami al-Idhthirab ‘an ayyi al-Kitab
  6. Dan lain-lain[5]

Muhammad al-Amin al-Sanqithiy merupakan ulama yang menganut mazhab Malikiy meskipun pemikirannya cenderung kepada pemikiran Ibnu Tayymiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab. Ketika mengajar di Mesjid Nabawi ia menemukan banyak orang yang mengamalkan mazahib arba’ah serta orang yang saling berdebat tentang mazahib arba’ah tersebut. Akan tetapi ia tidak ikut campur dalam perdebatan tersebut, ia lebih memilih untuk konsentrasi kepada tafsir al-Qur’an.[6]

  1. Zuhud dan wara’Muhammad al-Amin al-Syanqithiy

Ia merupakan salah seorang ulama yang zuhud terhadap kehidupan dunia, ia senantiasa melarang anaknya untuk menumpuk-numpuk harta dengan tujuan sedekah, membangun sekolah, dan sarana ibadah lainnya. Karena kebanyakan orang apabila telah banyak menumpuk harta untuk tujuan ini, maka ia tidak akan melaksanakan tujuannya tersebut, bahkan ia tidak akan memberi sesuatu dari hartanya tersebut kepada orang lain. Ia pernah berkata dihadapan murid-muridnya: “ Sesungguhnya aku sangat mampu untuk menjadi orang paling kaya, akan tetapi aku meninggalkan kenikmatan dunia, karena apbila kita sudah terlena dengannya maka sangat susah untuk keluar darinya, kecuali orang yang dipelihara oleh Allah Swt[7]

Ia merupakan ulama yang dermawan serta tidak suka menumpuk numpuk harta, ia selalu menafkahkan hartanya untuk orang miskin, penuntut ilmu, janda yang ditingga mati suaminya. Ia hanya mengambil sedikit dari hasil usahanya untuk memenuhi kebutuhan hariannya. Ia berkata : “ Demi Allah, kalau seandainya saya memiliki uang untuk mencukupi kebutuhan harian saya, maka saya tidak akan mengambil gaji dari Universitas tempat saya mengajar, akan tetapi saya sangat membuthkan dan saya tidak bisa lagi bekerja keras seperti dahulu karena umur saya yang telah lanjut” . Ia tidak pernah mengharapkan uang dari buku-buku yang dikarangnya, bahkan ia mencari dermawan yang bersedia untuk membiayai penerbitan buku-bukunya, kemudian dibagi-bagikan kepada para pelajar dengan gratis. Ia berkata : “ Selama aku masih hidup, maka  ilmu yang telah aku tulis dalam sebuah buku tidak akan diperjual belikan, akan tetapi akan dibagikan kepada orang banyak. Aku sadar buku tersebut akan sampai kepada orang yang tidak berhak menerimanya (yang mempunyai banyak uang untuk mendapatkan buku tersebut), akan tetapi disisi lain ia akan sampai kepada orang yang tidak mempunyai uang untuk mendapatkan buku tersebut”.[8]

  1. Mengenal kitab Adhwa’u al Bayan

Tafsir Adhwa’u al-Bayan merupakan kitab tafsir yang dikarang oleh ulama kontenperer, meskipun demikian metode yang dipakainya merupakan metode ulama klasik dalam menafsirkan al-Qur’an. Kitab ini diberi judul Adhwa’u al-Bayan fi Tafsiri al-Qur’an bi al-Qur’an, merupakan isyarat tentag thabi’at tafsir yang diawali oleh al-Qur’an dengan al-Qur’an, kemudian hadist Rasulullah Saw dan perkataan para sahabat nabi Saw. Muhammad al-Amin al-Syanqithiy tidak menafsirkan al-Qur’an secara keseluruhan, akan tetapi ia hanya menafsirkan ayat-ayat yang mujmal kemudian ia menyebutkan ayat-ayat yang menerangkan ke-ijmal-an ayat ini baik secara manthuq atau mafhum.[9] Kitab ini terdiri dari sepuluh  jilid, jilid satu sampai tujuh dikarang oleh penulis sendiri sampai surat al-Mujadalah, sementara jilid delapan sampai sembilan dikarang oleh muridnya yang bernama Syeikh ‘Athiyah Muhammad Salim dengan menggunakan metode yang sama dengan penulis, untuk lebih rincinya dapat dilihat pada uraian dibawah ini:

  1. Jilid satu sampai dengan tujuh merupakan tafsir al-Qur’an yang dikarang oleh pengarang sendiri hingga surat al-Mujadalah.
  2. Jilid tujuh sampai dengan sembilan merupakan penyempurnaan dari kitab ini yang dikarang oleh muridnya Syeikh ‘Athiyah Muhammad Salim dengan menggunakan metode yang sama dengan pengarang.
  3. Sedangkan jilid sepuluh merupakan himpunan dari tiga buah kitab yaitu: kitab Daf’u Iyhami al-Idhthirab ‘an ayyi al-Kitab, Man’u Jawazi al-Mujaz fi al-Manzil yang dikarang oleh pengarang sendiri, serta kitab biografi pengarang yang dikarang oleh muridnya Syeikh ‘Athiyah Muhammad Salim.[10]

Sebagai mana kebiasaan para ulama ketika mengarang sebuah buku, mereka mempunyai tujuan  yang mendorong mereka dalam penulisan suatu buku, hal ini pun juga terjadi pada Muhammad al-Amin al-Syanqithiy. Ada dua tujuan yang mendorongnya dalam penulisan kitab tafsir ini, hal ini sebagaimana dinyatakan dalam muqaddimah kitab-nya, adapun tujuan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Menerangkan makna al-Qur’an dengan al-Qur’an. Hal ini sesuai dengan ijma’ ulama bahwasanya metode yang paling bagus dalam menafsirkan al-Qur’an yaitu dengan al-Qur’an, karena tidak ada yang lebih mengetahui makna al-Qur’an makna al-Qur’an selain Allah Swt.
  2. Menerangkan hukum-hukum fiqh yang diambil dari seluruh ayat yang  mubaiyanah (menerangkan) ayat-ayat mujmal (global). Dalam menerangkan hokum-hukum fiqh, ia berpegangkan pada hadist-hadist Rasulullah Saw serta perkataan para ulama yang benar.[11]
  3. Metode penulisan kitab adhwa’u al-Bayan

Dalam penulisan kitab ini, pengarang banyak meggunakan metode atau langkah-langkah yang ditempuh oleh ulama sebelumnya, meskipun ada sedikit perbedaan diantara metodenya dengan metode ulama sebelumnya. Adapun metodenya dalam penulisan kitab ini adalah sebagai berikut:

  1. Ia memulai tafsirnya dengan cara menjelaskan makna kalimat yang mubham dan ghumud , tanpa menyebutkan nama surat, keutamaanya serta tidak menerangkan makna tiap-tiap kalimat dari sebuah ayat sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan ulama tafsir lainnya. Sebagai contoh adalah sebagai berikut:

قوله تعالي : (Ç`»uH÷q§9$# ÉOŠÏm§9$# ) هما وصفان لله تعالي, واسمان من أسمائه الحسني مشتقان من الرحمة  علي وجه المبالغة, الرحمة أشد مبالغة من الرحيم, لأن الرحمن هو ذو الرحمة الشاملة لجميع الخلائق في الدنيا, وللمؤمنين في الأخرة, والرحيم ذو الرحمة للمؤمنين يوم القيامة. وعلي هذا أكثر العلماء. و في كلام ابن جرير ما يفهم منه حكاية الإتفاق علي هذا.

Dalam menafsirkan ayat ini dapat kita lihat, bahwa pengarang berusaha menjelaskan makna dari kata ar-Rahman dan ar-Rahim, yang mana menurutnya kata ini perlu dijelaskan maknanya sehingga dapat membedakan antara keduanya, meskipun keduanya berasal dari asal kata yang sama. Disamping itu, dalam manafsirkan al-Qur’an pengarang pun menambahkan pembahasan yang dapat membantu pembaca untuk memahami ayat al-Qur’an berupa pembenaran terhadap masalah bahasa serta apa yang berhubungan dengannya berupa ‘Irab dan pengambilan isytihad dengan sya’ir-sya’ir Arab, dan juga pembenaran terhadap permasalahan ushuliyah dan kalam,  hal ini dapat kita lihat melalui pernyataanya pada muqaddimah yang berbunyi:

قد تضمن هذا الكتاب أمورا زائدة علي ذلك، كتحقيق بعض المسائل اللغوية وما يحتاج إليه من صرف و إعراب، والاشتهاد بشعر العرب و تحقيق ما يحتاج إليه فيه من المسائل الأصولية والكلام علي أسانيد الأحاديث، كما ستراه إن شاء الله[12]

  1. Menerangkan makna ayat yang mujmal atau mubham dalam al-Qur’an dengan ayat yang lain. Dalam menerangkan makna ayat tersebut, ia berpedoman pada qira’a sab’ah mutawatirah, sedangkan didalam menafsirkan ayat-ayat tentang aqidah, ia menempuh jalan ahlu sunnah dan jama’ah dalam nama-nama, sifat-sifatnya, penetapan melihat Allah Swt, istiwa’, tangan Allah Swt, qadha’dan qadhar. Disamping ia berpedoman dalam menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an dan hadist Rasulullah Saw, ia pun juga berpedoman kepada perkataan para sahabat, tabi’in, serta ulama tafsir terdahulu seperti Thabariy, Ibnu Kastir, Qurthubiy, Zamaksyariy. Sebagai contoh adalah ketika menafsirkan firman Allah Swt:

” وتمت كلمت ربك الحسني علي بني إسرائيل بماصبروا” dalam ayat ini tidak menjelaskan maksud dari kalimat husna, akan tetapi Allah swt menjelaskan pada ayat yang lain yang berbunyi

 ” ونريد ان نمن علي الذين استضعفوافي الأرض ونجعلهم أئمة ونجعلهم الوارثين…ونمكن لهم في الأرض ونرى فرعون وهمن وجنودهمامنهم ماكانوايحذرون…”

Karena kitab tafsir ini lebih mengutamakan penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an, maka sebelum memulai menafsirkan al-Qur’an, pengarang menyebutkan bentuk-bentuk bayan (keterangan atau penjelasan dalam al-Qur’an). Adapun bayan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Bayan ijmali waqi’ disebabkan karena perskutuan, baik itu persekutuan dalam ismun, fi’lun atau harfun. Adapun cantoh persekutuan dalam ismun adalah firman Allah Swt ثلاثة قروء karena kata qar’u musytarak antara haid dan suci. Al-Qur’an telah memberikan isyarat bahwa maksud dari quru’ disini adalah adalah masa suci sesuai dengan firman Allah Swt فطلقوا هن لعدتهن  , lam pada ayat ini untuk tawqit, maksudnya waktu talak yang diminta adalah letika suci bukan haid, sementara penambahan ta’marbutah pada firman Allah Swt ثلاثة قروء menunjukkan bahwa yang dihitung adalah muzakar bukan mu’anast, kalau seandainya yang dimaksud adalah haid maka pasti lafaznya adalah ثلاث tanpa ta’marbuthah, karena orang arab mengungkapkan  ثلاث حيضات  dan  اطهار . ثلاثة [13]
  2. Bayan ijmal waqi’i disebabkan karena ibham didalam isim jinsi baik itu jamak atau mufrad, didalam isim jama’, shilatu maushul atau dalam makna huruf. Sebagai contoh  bayan ijmal waqi’i disebabkan karena ibham dalam isim jinsin berupa jama’ adalah firman Allah Swt: “ فتلقي ادم من ربه كلمات “ kata kalimat dalam ayat ini adalah mubham maka dijelaskan dalam surat lain bahwasany maksud dari kalimat tersebut yaitu firman Allah Swt yang berbunyi:                   “من الخاسرين قال ربنا ظلمنا انفسنا وإن لم تغفرلنا وترحمنا لنكونن “ (QS: al-‘Araf: 23).[14]
  3. Bayan ijmal waqi’i yang disebabkan karena kemungkinan (ihtimal) dhamir yang ditafsirkan, sabagai contoh adalah firman Allah Swt:  “وإنه علي ذلك لشهيد “ dhamir pada ayat ini mempunyai banyak kemungkinan, bisa jadi kembali kepada manusia atau bisa jadi kembali kepada tuhan manusia yang telah disebutkan  dalam ayat           “ وإن الإنسان لربه لكنود“, akan tetapi nazham al-Qur’an menyebutkan bahwasanya ia kembali kepada manusia, meskipun ayat yang menunjukan ia kembali kepada tuhan manusia tersebut disebutkan pertama sekali, karena ayat setelanya berbunyi “ وإنه لحب الخير لشديد “ dhamir pada ayat ini kembali kepada manusia tanpa ada perbedaan ulama dalamnya, maka membedakan dhamir dalam al-Qur’an dengan cara menjadikan yang pertama kembali kepada tuhan sementara yang kedua kembali kepada manusia, merupakan sesuatu yang tidak pantas untuk nadzam al-Qur’an.[15]
  4. Bayan terhadap kalimat yang disebutkan dalam sebuah ayat sementara tidak diketahui maksudnya, kemudian kalimat tersebut disebutkan  pada tempat lain berupa pertanyaan yang diikuti dengan  jawaban yang menunjukkan makna kalimat tersebut, sebagai contoh adalah firman Allah Swt “ الحمد لله رب العالمين “ pada ayat ini tidak disebutkan maksud al-‘Alamin, akan tetapi ditempat lain disebutkan lagi kalimat ini dalam bentuk pertanyaan dan jawaban yaitu firman Allah Swt yang berbunyi “ قال فرعون وما رب العالمين . قال رب السماوات والأرض وما بينهما “ , meskipun pertanyaan Fir’aun berkisar tentang Tuhan, akan tetapi terdapat jawaban tentang maksud al-‘Alamin yaitu langit dan bumi beserta isinya.[16]
  5. Bayan terhadap kalimat yang jelas maknanya berdasarkan penempatan secara bahasa, akan tetapi bukan itu maksudnya karena adanya ayat yang menerangkan makna lain dari makna yang dipahami secara bahasa, sebagai contoh adalah firman Allah Swt “ الطلاق مرتان  “ dhzahir ayat ini mengabarkan kepada kita bahwa thalak yang sampai dua kali saja, akan tetapi dalam ayat lain Allah Swt menjelaskan bahwa thalak yang hanya sampai dua kali tersebut adalah thalak yang memungkinkan lagi untuk kembali kepada istrinya, hal ini sesuai dengan firman Allah Swt “ فإن طلقها فلا تحل له من بعد حتي تنكح زوجا غيره  “.[17]

Masih banyak lagi contoh bayan dalam al-Qur’an untuk lebih jelasnya bisa dilihat dalam kitab Adhwa’u al-Bayan fi Idhohi al-Qur’an bi al-Qur’an.

  1. Menjelaskan dengan rinci dan luas ayat-ayat yang berkenaan dengan hukum, kebanyakan referensi yang digunakannya dalam menafsirkan ayat-ayat hukum adalah perkataan imam arba’ah, Qurthubiy, al-Nawawi, Ibnu Qadamah, disamping itu, ia lebih banyak menukil perkataan ulama tanpa menyebutkan nama ulama tersebut. Adapun langkah yang digunakannya dalam menafsirkan ayat-ayat hukum yaitu dengan cara menyebutkan pendapat para ulama beserta dalil-dalil mereka, kemudian ia memperluas pembahasanya yang diikuti dengan pen-tarjih-an diantara pendapat-pendapat tersebut. Untuk contoh terlampir diakhir makalah ini.
  2. Dalam menafsirkan ayat-ayat yang berhubungan dengan aqidah dan sifat-sifat Allah swt, ia pun juga membahasnya secara luas dengan menyebutkan pendapat yang berbeda diantara ulama kalam, baik itu ahlu sunnah atau kelompok-kelompok lainnya, kemudian ia memilih pendapat ulama ahlu sunnah dari golongan salafiyah. Untuk contok terlampir diakhir makalah ini.
  3. Penutup

Demikian makalah ini ditulis, adapun kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Tafsir Adwa’ul al-Bayan merupakan tafsir yang menerangkan makna al-Qur’an dengan al-Qur’an itu sendiri. Ini merupakan metode yang paling utama dalam menafsirkan al-Qur’an sebagai mana yang telah disepakati oleh para ulama.
  2. Disamping menggunakan metode penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an, pengarang pun juga menggunakan metode tahliliy, mawdhu’i, serta muqaranah dalam menafsirkan al-Qur’an, terlebih lagi dalam penafsiran ayat-ayat hukum dan sifat atau permasalahan aqidah.
  3. Tafsir Adwa’ul al-Bayan bukanlah kitab tafsir yang menerangkan makana al-Qur’an secara keseluruhan, sebagaimana yang dilakukan oleh para mufassir yang lain, akan tetapi hanya menerangkan sebagian dari al-Qur’an yang mana maknanya terdapat dalam ayat lain, baik diketahui secara mafhum atau manthuq.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dalam menambah wawasan pengetahuan kita terhadap al-Qur’an, meskipun masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini, penulis tidak lupa untuk minta saran dan masukan dari teman-teman semua, serta bimbingan dari dosen pembimbing guna kesempuranaan makalah ini.

 

Daftar Pustaka

Al-Qur’an al-Karim

Ali Iyaziy, Al-Sayyid Muhammad, al-Mufassirin, Hayatuhum wa Manhajuhum, (Thahran: Mu’assasah al-Thaba’ah wa al-Nasyar, Wazaratu al-Staqafah wa al-Irsyad al-Islamiy, 1312 H)

Al-Khalidiy, Abdul Fattah, Ta’rifu al-Darisin bi Manahij al-Mufassirin, (Damasqus: Daru al-Qalam: 2006)

Al-Syafi’i, Husain Muhammad Fahmi, Al-dalil al-Mufahris li al-Fazi al-Qur’an al-Karim, (Kairo: Daru al-Salam, 2008)

Al-Syanqithiy, Muhammad al-Amin, Adhwa’u al-Bayan fi Idhahi al-Qur’an bi al-Qur’an, (Mekkah: Daru ‘Alamu al-Fu’adi, 1426 H)

 


[1] Dr. Abdul Fattah al-Khalidiy, Ta’rifu al-Darisin bi Manahij al-Mufassirin, (Damasqus: Daru al-Qalam: 2006), hal. 573

[2] Ibid., hal. 573

[3] Dr. Abdul Fattah al-Khalidiy,.op.cit, hal 574

[4] Al-Sayyid Muhammad Ali Iyaziy, al-Mufassirin, Hayatuhum wa Manhajuhum, (Thahran: Mu’assasah al-Thaba’ah wa al-Nasyar, Wazaratu al-Staqafah wa al-Irsyad al-Islamiy, 1312 H), hal. 139

[5] Lihat muqaddimah Adhwa’u al-Bayan

[6] Ibid., hal. 139

[7] Muhammad al-Amin al-Syanqithiy, Adhwa’u al-Bayan fi Idhahi al-Qur’an bi al-Qur’an, (Mekkah: Daru ‘Alamu al-Fu’adi, 1426 H), jil. 1, hal. 31

[8] Ibid., hal. 31

[9] Al-Sayyid Muhammad Ali Iyaziy,.op.cit, hal. 139-140

[10] Dr. Abdul Fattah al-Khalidiy,.op.cit, hal. 573

[11] Muhammad al-Amin al-Syanqithiy,.op.cit, Jil. 1, hal. 8

[12] Muhammad al-Amin al-Syanqithiy,.op.cit, Jil. 1, hal. 9

[13] Muhammad al-Amin al-Syanqithiy,.op.cit, Jil. 1, hal. 10

[14] Ibid., jil. 1, hal. 13

[15] Muhammad al-Amin al-Syanqithiy,.op.cit, Jil. 1, hal. 16

[16] Ibid., hal. 16-17

[17] Ibid., hal. 17

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Aconsultant System Ritel Sumatera Barat

Software & Program Kasir, Minimarket, Gudang, Apotek, Rumah Makan, Hotel, Rumah Sakit, Laundry, dan lain-lain ( Padang - Bukittinggi - Pariaman - Solok - Pasaman - Sawahlunto - Pesisir )

Bang Ori Gagah

Kepada Dzat Maha Gagah, Ku Berserah dan Pasrah

Marketing Tulen

LOOKING FROM A DIFFERENT PERSPECTIVE

Pelataran Villa Jumi-E

Jaga hatimu di Kota Padang

%d blogger menyukai ini: