Nikah Sesuku Dalam Adat Minang Menurut Kaca Mata Syara’

DSC_5170
Orang sesuku dalam adat minang bisa diklasifikasikan-menurut pandangan syara’-kepada dua macam.

Pertama, orang sesuku yang mahram. Dan kedua, orang sesuku yang bukan mahram.

Adapun orang sesuku yang mahram tidak boleh dinikahi menurut syara’. Misalnya ibu, saudara perempuan, saudara ibu yang perempuan, dan anak perempuan dari saudara perempuan sebagai mana dalam ayat yang artinya:

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan ” (QS. An-nisa’: 23).

Mereka adalah orang sesuku yang tidak boleh dinikahi, karena mahram sebagaimana dalam ayat. Macam kedua adalah orang sesuku yang bukan mahram. Seperti anak perempuan dari saudara perempuan ibu. Sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah yang artinya:
“…dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu…” (QS. Al-ahzab: 50).

Anak perempuan dari saudara perempuan ibu boleh dinikahi sebagaimana dalam ayat di atas. Karena dia bukan mahram. Adapun menurut adat, pernikahan seperti ini tidak dibolehkan, karena anak perempuan dari saudara ibu adalah orang sesuku.

Berdasarkan klasifikasi di atas, maka hukum menikah dengan sesuku dapat kita rinci sebagai berikut:
Pertama, menikah dengan orang yang tidak sesuku dan bukan mahram tidak bertentangan dengan agama dan tidak juga melanggar aturan adat.
Kedua, menikah dengan sesuku yang mahram bertentangan dengan agama dan aturan adat.
Ketiga, menikah dengan sesuku yang bukan mahram. Inilah yang menjadi fokus dari pertanyaan. Ada sebuah kaidah yang menjelaskan bahwa adat dan kebiasaan tidak bisa merubah hakikat hukum yang sudah ditetapkan dalam agama. Artinya, menikah dengan sesuku yang bukan mahram hukumnya adalah sah dan tidak batal menurut syara’. Lalu apa sikap kita terhadap aturan adat yang tidak membolehkan demikian?

Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw pernah berkata kepada Aisyah:
“Wahai Aisyah! Kalau bukan karena kaummu tidak dekat masanya dengan jahiliyah (masih baru Islam,) sungguh saya akan perintahkan untuk menghancurkan ka’bah dan saya masukkan bagian yang lain kedalamnya (seperti yang dibangun Ibrahim. As).” (HR. Bukhari).

Hadits ini mengajarkan kepada kita bahwa penerapan hukum syar’i perlu disesuaikan dengan kesiapan masyarakat untuk menerimanya. Karena itu, penerapan ini membutuhkan pemahaman terhadap apa yang dikenal dengan istilah fiqhul waqi’ dan fiqhud dakwah.Bila penerapan hukum pada masyarakat di suatu tempat akan menimbulkan gejolak, atau sanksi yang memberatkan, maka penerapan itu bisa ditanguhkan sampai masyarakat memiliki kesiapan untuk itu.

Dalam adat minang, sebenarnya ada aturan-aturan yang baku dan tidak bisa diubah, seperti dalam pepatah minang “Nan Indak lakang dek paneh, nan indak lapuak dek ujan”. Di antaranya adalah seperti kepatutan menurut agama, menurut peri kemanusiaan, menurut hukum alam yang didasarkan pada kodrat ilahi, atau menurut tempat dan waktu. Aturan ini dikenal dengan istilah adat nan sabana adat.

Selain itu ada juga aturan-aturan yang bisa berubah-ubah berdasarkan pada kesepakatan. Sebagaimana dalam pepatah “Nan elok dipakai jo mufakat, nan buruak dibuang jo hetongan, Adat habih dek bakarilahan.” Aturan ini dikenal dengan istilah adat nan diadatkan.

Ada juga kebiasaan yang sifatnya adalah peribadi atau individu yang bisa ditambah dan dikurangi atau ditinggalkan. Hal ini dikenal dengan istilah adat nan teradat. Terakhir adalah adat yang sifatnya kelaziman yang berubah-ubah mengikuti alur yang ada pada masing-masing tempat. Seperti kesenian, perhelatan dll. Hal ini dikenal dengan istilah adat istiadat.

Keempat kelompok dari adat ini merupakan modal dasar bagi para da’i untuk melakukan pembaharuan adat di masa mendatang sesuai dengan aturan syara’ yang sempurna. Peluang ini cukup terbuka untuk dialakuan sebagaimana yang pernah dilakukan oleh orang-orang sebelumnya. Apalagi adat minang memiliki falsafah dasar “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah”. Namun perlu kesabaran dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat sesuai dengan bahasa yang mereka pahami. Sehingga mereka memiliki kesiapan untuk menyepakati aturan yang sesuai dengan syara’ yang menjadi dasar bagi adat minang. Wallahu a’lam

Sumber: Harian Muslim

2 responses to this post.

  1. Posted by Aslan on November 14, 2013 at 5:13 am

    Syara’ mangato adat mamakai

    Balas

  2. Posted by Muhammad ridhallah on Desember 16, 2013 at 10:24 pm

    Maaf untuk yang alasan kedua yang berdasarkan surat al ahzab ayat 50. Tolong dibaca baik2.. Itu hanya untuk nabi.. Baca sambungan ayat selanjutnya “…. Sebagai kekhususan bagimu (nabi),bukan untuk semua orang mukmin”
    Wassalamualaikum

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Aconsultant System Ritel Sumatera Barat

Software & Program Kasir, Minimarket, Gudang, Apotek, Rumah Makan, Hotel, Rumah Sakit, Laundry, dan lain-lain ( Padang - Bukittinggi - Pariaman - Solok - Pasaman - Sawahlunto - Pesisir )

Bang Ori Gagah

Kepada Dzat Maha Gagah, Ku Berserah dan Pasrah

Marketing Tulen

LOOKING FROM A DIFFERENT PERSPECTIVE

Pelataran Villa Jumi-E

Jaga hatimu di Kota Padang

%d blogger menyukai ini: